Kamis, 22 Desember 2011

Evaluasi Pembelajaran Membaca dan Menulis di Kelas-Kelas Rendah


BAB I.
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Evaluasi merupakan salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai suatu komponen, maka evaluasi tidak dapat dipisahkan dari komponen-kompenen yang lain. Artinya setiap kali kegiatan itu diselenggarakan maka evaluasi juga diadakan.
Salah satu faktor penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses pembelajaran yang dilakukan, sedangkan salah satu faktor penting untuk efektifitas pembelajaran adalah faktor evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran. Evaluasi dapat mendorong siswa untuk giat belajar secara terus menerus dan juga mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan juga mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik tetapi juga dapat melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output, maupun kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Manfaat utama dari evaluasi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan.
Penilaian belajar bukan hanya bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada anak didik. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar, sementara implementasi program pembelajaran di kelas atau kualitas proses pembelajaran itu jarang tersentuh kegiatan penilaian.
Terutama pada anak sekolah dasar kelas rendah, penilaian harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dengan menggunakan teknik tertentu. Karena merupakan titik awal bagi mereka untuk mencapai cita-citanya. Hal yang menjadi penilaian mendasar adalah pada kegiatan membaca dan menulis.
Cara penilaian untuk anak-anak kelas rendah sangat berbeda dengan anak yang telah duduk di kelas tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan keterampilan khusus dalam melakukan penilaian terhadap mereka.
Evaluasi mau tidak mau menjadi hal yang penting dan sangat di butuhkan dalam proses belajar mengajar, karena evaluasi dapat mengukur seberapa jauh kebehasilan anak didik dalam menyerap materi yang di ajarkan, dengan evaluasi,  maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat di ketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar  untuk berubah lebih baik kedepan.
Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu di makalah ini akan coba di bahas.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan pendidikan ke depan lebih baik dan libih maju dalam menyongsong kemajuan zaman gloobalisai

B.     Kompetisi Dasar
1.      Mendeskripsikan pengertian evaluasi dan hakikat evaluasi dalam pembelajaran.
2.      Menyusun dan penerapkan alat-alat evaluasi dalam pembelajaran membaca permulaan dan menulis permulaan di kelas rendah.

  1. Perumusan Masalah
Evaluasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Karena dengan hal itu guru dapat mengetahui perkembangan anak didiknya dan menangani anak-anak yang mengalami masalah dalam pembelajaran. Evaluasi juga dapat menentukan berhasil tidaknya kegiatan belajar mengajar, baik dilihat dari sisi guru maupun muridnya. Evaluasi pembelajaran membaca dan menulis di kelas rendah merupakan salah satu tantangan besar bagi para guru, karena itulah dasar mereka untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya.
Apabila guru melakukan kesalahan dalam penialian tersebut maka dapat berpengaruh terhadap hasil belajar anak pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, evaluasi untuk anak kelas rendah diperlukan perencanaan yang matang dan metode-metode khusus.
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang :
1.      Apa pengertian evaluasi ?
2.      Apakah hakikat penilaian pembelajaran bahasa secara holistik ?
3.      Bagaimana prosedur penilaian pembelajaran yang benar ?
4.      Bagaimana melaksanakan penilaian membaca dan menulis dengan menggunakan prinsip-prinsip evaluasi holistik secara benar ?
5.      Bagaimana cara memilih dan mengembangkan alat penilaian dengan baik dan benar untuk anak kelas rendah di SD dalam pembelajaran membaca dan menulis?

  1. Tujuan Masalah
Setelah membahas makalah ini diharapkan pembaca dapat :
1.      Menjelaskan pengertian evaluasi dengan benar.
2.      Menjabar hakikat penilaian secara holistik.
3.      Memilih prosedur penilaian pembelajaran yang tepat.
4.      Memilih dan mengembangkan alat penilaian yang baik.
5.      Melaksanakan penilaian dengan menggunakan prinsip-prinsip evaluasi holistik secara benar.

  1. Manfaat
Dalam proses kegiatan belajar mengajar, guru perlu melihat perkembangan yang dialami oleh anak didiknya, baik melalui penilaian secara tes maupun non tes. Namun untuk melakukan penilaian tersebut, diperlukan cara khusus agar guru tidak melakukan kesalahan dalam memberi penilaian terhadap siswa.

Membaca dan menulis adalah dua hal yang paling mendasar yang harus dimiliki anak sebelum mendapatkan pelajaran yang lain. Untuk itu jangan sampai ada kesalahan dalam melakukan penilaian kedua hal tersebut, karena itu sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran yang lain.
Untuk itu kami akan membahas tentang bagaimana cara untuk mengevaluasi pembelajaran membaca dan menulis terhadap anak yang duduk di kelas rendah. Mudah-mudahan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru demi kemajuan pendidikan di Indonesia

BAB II
PENGERTIAN EVALUASI (PENILAIAN) PEMBELAJARAN

A. Evaluasi
  1. Pengertian Evaluasi
Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983).
Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif
keputusan.
Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai "setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai". Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. Dan menurut Anne Anastasi (1978) mengartikan evaluasi sebagai "a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils".
Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, yang jelas.
Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai.

Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.
Evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:
*          Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
*          Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.
*          Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.
Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atas permasalahan yang ditemukan
Evaluasi bersifat analitik dan kooperatif dengan obyek evaluasi (evaluatan), sedangkan audit lebih menekankan pada pengujian-pengujian bukti dan independen terhadap obyek audit (auditan). Keduanya tetap mengedepankan obyektivitas evaluator/auditor.
Tidak ada satupun guru yang tidak ingin berhasil dalam proses mengajar, tentunya semua guru sangat mengharapkan sekali keberhasilan belajar mengajar itu, guru yang masa bodoh terhadap anak didiknya adalah cermin kurang tanggung jawabnya seorang guru menjabat sebagai profesinya, gurung yang tidak mau tahu dengan perkembangan pendidikan anak didiknya adalah tanda guru yang tidak peduli taerhadap tantangan zaman yang terus merongrong anak didiknya.
Walaupun ada terobosan baru metode belajar yang bagus, seperti yang di pelopori oleh bobby de porter dalam quantum learningnya, tetapi itu saja tidak cukup, metode yang bagus saja tidak cukup tanpa evaluasi, maka evaluasi sangat  di butuhkan sekali dalam pendidikan.


 Dalam sebuah buku yang berjudul teknik evaluasi pendidikan karya M.chabib thoha, beliau mengatakan bahwa Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu, apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan.
Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Selain pengertian di atas ternyata pengertian evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam :
·         Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok.
·         Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan.
Bukan hanya seperti di katakan di atas saja pengertian evaluasi, tetapi ada beberapa istilah yang serupa dengan evaluasi itu, yang intinya masih mencakup evaluasi, yaitu diantaranya :
·         Pengukuran diartikan sebagai proses kegiatan untuk menentukan luas atau kuantitas sesuatu untuk mendapatkan informasi atau data berupa skor mengenai prestasi yang telah dicapai siswa pada periode tertentu dengan menggunakan berbagai tekhnik dan alat ukur yang relevan.
·         Tes secara harfiah diartikan suatu alat ukur berupa sederetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur kemampuan, tingkah laku, potensi, prestasi sebagai hasil pembelajaran.
·         Assessment adalah suatu proses pengumpulan data dan pengolahan data tersebut menjadi suatu bentuk yang dapat dijelaskan.
Evaluasi atau penilaian dalam bidang pengajaran dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Tuckman (1975:12) mengartikan penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui/menguji apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau criteria yang telah ditentukan. Pengertian evaluasi berkaitan erat dengan pengertian pengukuran (measurement).
Orang sering mencampuradukkan kedua pengertian ini. Untuk dapat memberikan penilaian secara tepat, misalnya tentang kemampuan siswa memahami teks argumentasi, pengajar memerlukan data-data tentang kemampuan siswa dalam hal itu. Untuk mendapatkan data tersebut, misalnya skor, pengajar memerlukan kegiatan yang disebut pengukuran. Jadi, pengukuran itu merupakan proses mengukur yang berfungsi sebagai alat evaluasi. Ia berhubungan dengan data-data kuantitatif saja misalnya berupa skor-skor siswa. Dari kegiatan pengukuran ini proses evaluasi dimulai. Data kuantitatif yang didapat dari pengukuran diubah menjadi pernyataan kualitatif yang berupa penilaian. Misalnya, skor 40, 60, 80 dari hasil pengukuran dapat dinilai sebagai kurang mampu, cukup mampu, dan sangat mampu.

  1. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik.
Evaluasi pendidikan memberikan manfaat baik bagi siswa/peserta pendidikan, pengajar maupun manajemen. Dengan adanya evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah digapai selama mengikuti pendidikan. Pada kondisi dimana siswa mendapatkan nilai yang mernuaskan maka akan memberikan dampak berupa suatu stimulus, motivator agar siswa dapat lebih meningkatkan prestasi.

Pada kondisi dimana hasil yang dicapai tidlak mernuaskan maka siswa akan berusaha memperbaiki kegiatan belajar, namun demikian sangat diperlukan pemberian stimulus positif dari guru/pengajar agar siswa tidak putus asa. Dari sisi pendidik, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik untuk menetapkan upaya upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Ada beberapa tujuan dan atau fungsi penilaian dalam pengajaran di sekolah
a.       Untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan telah tercapai dalam kegiatan pembelajaran.
b.      Untuk memberikan objektivitas pengamatan kita terhadap perilaku hasil belajar siswa.
c.       Untuk mengetahu kemampuan siswa dalam bidang/topik tertentu.
d.      Untuk menentukan kelayakan siswa, misalnya naik kelas, lulus.
e.       Untuk memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajaranyang dilakukan.
Evaluasi memiliki beberapa fungsi yaitu ;
*      Fungsi normatif, yaitu berfungsi untuk perbaikan sistem pembelajaran
*      Fungsi diagnostik, yaitu untuk mengetahui faktor kesulitan siswa dalam proses   pembelajaran
*      Fungsi sumatif, yaitu berfungsi untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik
*      Fungsi penempatan
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.
Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.      Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.
4.      Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik, guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:

a.       Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.
b.      Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.
c.       Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.

  1. Pandangan Behavioristik dan konstruktifistik tentang evaluasi
Segala sesuatu yang di lakukan pasti mempunyai tujuan dan fungsi yang akan di capai, pastinya semua aktifitas tidak ingin hasilnya sia-sia, begitupun dengan evaluasi, ada tujuan dan fungsi yang ingin di capai, Evaluasi telah memegang peranan penting dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
·         Membuat kebijaksanaan dan keputusan
·         Menilai hasil yang dicapai para pelajar
·         Menilai kurikulum
·         Memberi kepercayaan kepada sekolah
·         Memonitor dana yang telah diberikan
·         Memperbaiki materi dan program pendidikan

Pandangan Behavioristik dan konstruktifistik tentang evaluasi, yaitu :
BEHAVIORISTIK
KONSTRUKTIVISTIK
Evaluasi menekankan pada respon pasif. Keterampilan secara terpisah dan biasanya menggunakan “ paper dan pencil test”
Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata
Evaluasi yang menuntut jawaban benar menunjukkan bahwa si belajar telah menyelesaikan tugas belajar
Evaluasi yang menggali berpikis secara divergen, pemecahan ganda, bukan hanya jawaban benar
Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran dan biasanya dilakukan setelah kegiatan belajardengan penekanan pada evaluasi individu
Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktifitas belajar bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi akan menekankan pada keterampilan dan proses dalam kelompok

Dr.muchtar buchori Med. Mengemukakan bahwa tujuan khusus evaluasi pendidikan ada 2  yaitu :
·         Untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia mengalami pendidikan selam jangka waktu tertentu.
·         Untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka waktu tertentu tadi.
Kemajuan dan kemunduran belajar peserta didik, dapat diketahui pula kedudukan mereka dalam kelompoknya dan juga dapat dipakai pula untuk mengadakan perencanaan yang realistik dalam mengarahkan dan mengembangkan masa depan mereka. Selanjutnya dengan diketahuinya efektifitas dan efisiensi metode-metode yang digunakan dalam pendidikan, guru telah mendapatkan pelajaran yang cukup berharga untuk menyempurnakan metode-metode yang sudah baik, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan metode yang tidak efektif.
            Fungsi evaluasi bersifat evaluatif, terdiri atas :
*      Fungsi prognostik yaitu meramalkan sesuatu dalam menghadapi langkah selanjutnya.
*      Fungsi diagnostik yaitu evaluasi yang bertujuan yang bertu11/21/2006juan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa serta penyebabnya.
*      Fungsi judgement yaitu evaluasi yang dilakukan untuk menetukan keberhasilan siswa atau tes penentuan akhir.
Evaluasi juga berfungsi untuk siswa itu sendiri, yaitu :

a.      Fungsi Evaluasi Bagi Siswa
Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan :
*     Hasil siswa yang memuaskan.
Jika siswa memperoleh hasil yang emuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotifasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.



*     Hasil siswa yang tidak memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa.

b.      Fungsi Evaluasi bagi guru
*     Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.
*     Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.
*     Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.
*     Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.

  1. Fungsi Evaluasi Bagi Sekolah
*     Untuk mengukur ketepatan kurikulum atau silabus. Melalui evaluasi  terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru, maka akan dapat diketahui apakah ketepatan kurikulum telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan atau belum. Dari hasil penilaian tersebut juga sekolah dapat menetapkan langkah-langkah untuk perencanaan program berikutnya yang lebih baik.
*     Untuk mengukur tingkat kemajuan sekolah. Sudah barang tentu jika hasil penilaian yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda telah terlaksananya kurikulum sekolah dengan baik, maka berarti tingkat ketepatan dan kemajuan telah tercapai sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tand-tanda itu menunjukkan tidak tercapainya sasaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa tingkat ketepatan dan kemajuan sekolah perlu ditingkatkan.
*     Mengukur keberhasilan guru dalam mengajar. Melalui evaluasi yang telh dilaksanakan dalam pengajaran merupakan bahan informasi bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pengajaran.
*     Untuk meningkatkan prestasi kerja. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalm pengajaran akan mendorong bagi sekolah atau guru untuk terus meningkatkan prestasi kerja yang telah dicapai dan berusaha memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang mungkin terjadi.
Dalam evaluasi semua komponen dalam pendidikan layak dan harus dijadikan sebagai objek dan subjek evaluasi pendidikan, yaitu :
~        Siswa, dapat menjadi subjek evaluasi bagi dirinya sendiri dan bagi guru serta sekolahnya dan dapat juga menjadi bagian dari objek evaluasi yang dilakukan oleh guru dan sekolahnya.
~        Guru, dapat menjadi subjek evaluasi bagi program dan cara-cara dia mengajar, keberhasilannya dan juga dpat menjadi objek evaluasi oleh siswa dan sekolahnya.
~        Sekolah, dapat menjadi subjek evaluasi bagi siswa dan guru-guru yang ada didalamnya serta dapat juga menjadi sasaran atau objek evaluasi dari siswa dan guru yang bernaung  didalamnya.
Setelah semua tugas evaluasi kita lakukan kita akan banyak memetik manfaat dari evaluasi itu, baik bagi siswa, guru maupun sekolah yang seandainya kita mengambil benang merah dari nya kita akan mengetahui apa-apa yanga harus dan yang tidak harus lagi kita lakukan untuk kedepannya.
Tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah agar siswa dapar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, bentuk penilaiannya juga penilaian yang komunikatif. Antara lain guru dapat menilai bagaimana siswa membuat dan menjawab pertanyaan, membuat laporan, membuat ringkasan, membuat percakapan. Inilah bentuk penilaian yang sejalan dengan tujuan penyusunan program pengajaran bahasa Indonesia.
Penilaian adalah proses sistematis yang meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Salah satu bentuk penilaian adalah penilaian kelas, yaitu proses pengumpulan & penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar.

  1. Prinsip Dasar Evaluasi
Adapun prinsip prinsip evaluasi adalah :
      Objektif : sesuai dengan kemampuan siswa
      Kontinuitas : berkesinabungan
      Komperhensif : berkaitan dengan sikap nilai
      Praktis : praktis digunakan penidik dan peserta didik
      Akuntabilitas : tanggung jawab
Evaluasi adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan yaitu penilaian untuk menentukan kualitas dan pengukuran untuk menentukan kuantitas.
            Evaluasi memiliki beberapa prinsip dasar yaitu :
·         Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembelajaran bagi masyrakat.
·         Evaluasi adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilkukan dengan metode yang berbeda.
·         Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. Evaluator tidak berwenang untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.
·         Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.
·         Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.
·         Evaluasi adalah proses,  jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.
·         Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.
·         Evaluasi akan mantap apabila dilakukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable.
·         Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan evaluasi program.
·         Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat.

B. Pembelajaran
1.      Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

2.      Tujuan Pembelajaran
Tujuan pengajaran akan terlihat dalam keluaran hasil belajar. Dengan kata lain, tercapai tidaknya tujuan dapat dilihat dari keluaran hasil belajar. Gagne (1979:49-56) memerinci keluaran hasil belajar sebagai berikut:
a.      Keterampilan intelektual (Intelectual skills)
Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang membuat seseorang berkompeten, yang memungkinkan untuk menanggapi konseptualisasi lingkungannya. Keterampilan ini berkaitan dengan pengetahuan “bagaimana” (bukan pengetahuan”apa”) melakukan aktivitas. Ada empat subkategori, yaitu
(a) pembedaan (discrimination)
(b) konsep (concepts)
(c) aturan (rules)
(d) aturan tingkat tinggi (higher-order rules).
b.      Strategi kognitif (Cognitives strategies)
Strategi kognitif merupakan kecakapan khusus yang memungkinkan siswa dapat belajar dan menentukan sesuatu secara sendiri, misalnya belajar bagaimana belajar yang paling cocok untuk dirinya sendiri.
c.       Informasi Verbal (Verbal information)
Informasi verbal adalah hasil belajar yang berupa informasi dan pengetahuan verbal. Informasi itu dapat dibedakan ke dalam fakta, nama, prinsip, dan generalisasi.
d.      Keterampilan motor (motor skill)
Keterampilan motor adalah keluaran belajar yang berkaitan dengan gerakan otot, misalnya berdeklamasi.
e.       Sikap (attitudes)
Sikap merupakan sejumlah bentuk keluaran belajar yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti toleransi, suka membaca, mencintai sastra, kesediaan bertanggung jawab.
Bloom dkk. Membedakan keluaran belajar ke dalam tiga ranah (domain), yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
*     Ranah Kognitif
Ranah kognitif berkaitan dengan pengetahuan/ kemampuan intelektual. Kemampuan ini meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

*     Ranah Afektif
Ranah ini meliputi perasaan, nada, emosi, dan variasi tingkatan penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu.
*     Ranah Psikomotor
Ranah ini berkaitan dengan gerakan-gerakan otot, misalnya pengucapan lafal bahasa

BAB III
HAKIKAT PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA SECARA HOLISTIK

A. Pengertian Pendidikan Holistik
            Pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual.
Secara historis, pendidikan holistik sebetulnya bukan hal yang baru. Beberapa tokoh klasik perintis pendidikan holistik, diantaranya : Jean Rousseau, Ralph Waldo Emerson, Henry Thoreau, Bronson Alcott, Johann Pestalozzi, Friedrich Froebel dan Francisco Ferrer. Berikutnya, kita mencatat beberapa tokoh lainnya yang dianggap sebagai pendukung pendidikan holistik, adalah : Rudolf Steiner, Maria Montessori, Francis Parker, John Dewey, John Caldwell Holt, George Dennison Kieran Egan, Howard Gardner, Jiddu Krishnamurti, Carl Jung, Abraham Maslow, Carl Rogers, Paul Goodman, Ivan Illich, dan Paulo Freire.
Pemikiran dan gagasan inti dari para perintis pendidikan holistik sempat tenggelam sampai dengan terjadinya loncatan paradigma kultural pada tahun 1960-an. Memasuki tahun 1970-an mulai ada gerakan untuk menggali kembali gagasan dari kalangan penganut aliran holistik. Kemajuan yang signifikan terjadi ketika dilaksanakan konferensi pertama pendidikan Holistik Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas California pada bulan Juli 1979, dengan menghadirkan The Mandala Society dan The National Center for the Exploration of Human Potential. Enam tahun kemudian, para penganut pendidikan holistik mulai memperkenalkan tentang dasar pendidikan holistik dengan sebutan 3 R’s, akronim dari relationship, responsibility dan reverence. Berbeda dengan pendidikan pada umumnya, dasar pendidikan 3 R’s ini lebih diartikan sebagai writing, reading dan arithmetic atau di Indonesia dikenal dengan sebutan calistung (membaca, menulis dan berhitung).
B.     Tujuan Pendidikan Holistik
Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).

C. Pengertian Penilaian Secara Holistik
Menurut Hill dan Ruptic (1994) serta Routman (1994), dalam konteks pembelajaran bahasa, penilaian holistik berpandangan bahwa unsur-unsur bahasa serta keempat keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, mengdengar, dan menulis) merupakan kemampuan berbahasa yang terpadu dan saling berkaitan erat. Itu semua diperoleh anak secara bertahap dan terus-menerus.
Dalam kurikulum 1994, yang mangacu kepada kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menyatakan bahwa penilaian pengajaran, termasuk di dalamnya bahasa Indonesia, meliputi tiga hal, yaitu :
a.       Penilaian program, yang diarahkan pada keefektifan dan kualitas rancangan program seperti rencana tahunan, semester, bulanan, mingguan atau harian.
b.      Penilaian pelaksanaan program, yang dutujukan pada keefektifan pelaksanaan program kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
c.       Penilaian kemajuan dan hasil belajar yang diarahkan pada proses dan hasil belajar siswa.
Adapun sasaran penilaian itu sendiri mencakup kognitif, afektif, dan psikomotor. Atas dasar itu, maka penilaian bahasa Indonesia bersifat utuh, menyeluruh, dan terus menerus. Sasarannya tidak hanya hasil atau siswa tetapi juga proses, guru, dan pembelajaran itu sendiri.

Penilaian holistik memiliki tiga prinsip, yaitu :
1        Memandang pembelajaran dan penilaian sebagai suatu kesatuan.
2        Melibatkan secara aktif di dalam belajar dan evaluasi sendiri.
Melihat perkembangan belajar siswa, baik sebagai individu ataupun kelompok, sebagai suatu proses yang unik untuk menyeluruh dan terus menerus.

D. Ciri-Ciri Penilaian Holistik
Penilaian adalah cara untuk mengetahui sejauh mana program yang dibuat guru dan disampaikan kepada siswa dapat diserap dan dikuasai siswa atau sejauh mana sasaran belajar dari suatu program itu dapat tercapai. Seperti kita ketahui sebelum program diberikan. Guru memberikan penilaian apakah hal yang telah digariskan itu tercapai ? Itulah yang disebut penilaian (Rooijakkers 1944:141). Jadi sekali lagi melalui penilaian guru dapat mengetahui hasil pengajaran yang telah dilaksanakannya.
Ciri-ciri penilaian holistik adalah :
  • Didasarkan pada pengalaman keseharian berbahasa secara otentik.
  • Dilakukan selaras dengan hakikat belajar bahasa sebagai suatu proses yang berkembang secara bertahap dengan terus-menerus.
  • Diarahkan pada penilaian proses dan hasil, serta dilakukan secara formal dan informal.
  • Menginformasikan kegiatan belajar mengajar atau apa yang terjadi di kelas sehari-hari.
  • Memperhatikan keunikan siswa sebagai makhluk hidup.
  • Melibatkan siswa di dalam penilaian untuk mengukur kekuatan dan kelemahannya, menetapkan tujuan dan keputusan untuk kegiatan belajar.
Pada dasarnya penilaian dilakukan karena guru ingin mengetahui apakah siswa telah belajar dengan baik atau belum. Tetapi melalui penilaian ini, dapat diketahui pula apakah semua bagian dari seluruh meteri telah diterangkan dengan baik atau belum.
Jika siswa melakukan kesalahan yang sama pada pertanyaan tertentu, ini berarti guru kurang jelas menerangkan masalah itu. Dari sinilah kita mengetahui bahwa melalui penilaian terhadap siswa, guru dapat pula menilai darinya sendiri. Secara tidak langsung guru telah mengadakan penilaian terhadap dirinya, siswa, dan program sekaligus.
Ciri-ciri penilaian kelas:
1. Menggunakan acuan patokan/kriteria.
2. Penilaian otentik (John B. Carrol, A Model of School Learning) :
   - Proses penilaian bagian integral dari proses pembelajaran.
   - Mencerminkan masalah dunia nyata bukan dunia sekolah.
   - Menggunakan berbagai cara dan kriteria.
   - Holistik (kognitif, afektif, psikomotor).
Penilaian siswa secara holistik dengan menggunakan acuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa hingga saat ini masih belum dilakukan. Penilaian yang cenderung mengarah pada aspek kognitif, akan menimbulkan kerancuan jika ternyata hasil yang diperoleh bukanlah hasil murni, yaitu jika siswa mendapatkan nilai tersebut tidak dengan murni pemikiran sendiri. 
a. Penilaian Afektif
      Mencakup penilaian sikap, tingkah laku, minat, emosi dan motivasi, kerjasama, koordinasi  dari setiap peserta didik.
      Dilakukan melalui pengamatan dan interaksi langsung secara terus menerus. Pada umumnya dilakukan secara non-ujian (misalnya; untuk mengetahui siapa peserta didik yang bisa dipercaya, siapa peserta didik yang disiplin, siapa yang berminat ke jurusan Ilmu Sosial atau Ilmu Alam dll).
      Setiap informasi yang diperoleh dikumpulkan dan disimpan sebagai referensi    dalam penilaian berikutnya.
      Penilaian afektif dibagi atas penilaian afektif secara umum (budi pekerti) dan penilaian afektif per mata pelajaran.
      Aspek penilaian afektif terdiri dari:
*          Menerima (receiving) termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, respon, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
*          Menanggapi (responding): reaksi yang diberikan: ketepatan reaksi, perasaan kepuasan, dll.
*          Menilai (evaluating): kesadaran menerima norma, sistem nilai, dll.
*          Mengorganisasi (organization): pengembangan norma dan nilai dalam organisasi sistem nilai.
*          Membentuk watak (Characterization): sistem nilai yang terbentuk mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah laku.
b. Psikomotorik
      Tidak semua mata pelajaran dapat dinilai aspek psikomotornya (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik).
      Digunakan untuk pembelajaran yang banyak memerlukan praktik: Pendidikan Agama, Pendidikan Seni, Pendidikan Jasmani, Praktik IPA dan Bahasa.
      Aspek Psikomotorik terdiri dari (Taxonomy Bloom, Bloom, Englehart, Furst, Hill, Krathwohl:56) :
         Meniru (perception)
         Menyusun (manipulating)
         Melakukan dengan prosedur (precision)
         Melakukan dengan baik dan tepat (articulation)
         Melakukan tindakan secara alami (naturalization)
Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:
1)  Perencanaan,
2)  Pengumpulan data,
3)  Verifikasi data,
4)  Analisis data, dan
5)  Interpretasi data.


Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai

E. Prinsip Penilaian Holistik
  • Memandang pembelajaran dan penilai sebagai suatu kesatuan.
  • Melibatkan siswa secara aktif di dalam belajar dan evaluasi sendiri.
  • Melibatkan perkembangan belajar siswa, baik sebagai individu ataupun kelompok, sebagai suatu proses yang unik untuk menyeluruh dan terus menerus.

D. Pelaksanaan Pembelajaran Secara Holistik
Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow, maka pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya:
*      Kesadaran
*      Kejujuran
*      Kebebasan atau kemandirian
*      Kepercayaan.
Pendidikan holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Proses pembelajaran menjadi tanggung jawab personal sekaligus juga menjadi tanggung jawab kolektif, oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistik, diantaranya :

*      Menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif
*      Prosedur pembelajaran yang fleksibel.
*      Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu.
*      Pembelajaran yang bermakna.
*      Pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada.
Dalam pendidikan holistik, peran dan otoritas guru untuk memimpin dan mengontrol kegiatan pembelajaran hanya sedikit dan guru lebih banyak berperan sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator. Forbes (1996) mengibaratkan peran guru seperti seorang teman dalam perjalanan yang telah berpengalaman dan menyenangkan.
Sekolah hendaknya menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja guna mencapai tujuan yang saling menguntungkan. Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting, perbedaan individu dihargai dan kerjasama lebih utama dari pada kompetisi.
Gagasan pendidikan holistik telah mendorong terbentuknya model-model pendidikan alternatif, yang mungkin dalam penyelenggaraannya sangat jauh berbeda dengan pendidikan pada umumnya, salah satunya adalah homeschooling, yang saat ini sedang berkembang, termasuk di Indonesia.

E. Penilaian Ketrampilan Bahasa Indonesia Secara Holistik
Alat penilaian terdiri dari :
1.      Alat Penilaian Tes
Yaitu serangkaian pertanyaan atau tugas untuk mengukur percakapan tertulis dan perbuatan.
a.      Tes Menyimak
Bertujuan untuk menilai kemampuan siswa dalam memahami isi makna berupa identifikasi fonem, pola intonasi, atau pengertian isi wacana lisan. Tes yang dapat dilakukakn adalah simak ulang, melengkapi, dan menjawab pertanyaan dari wacana lisan.

b.      Tes Berbicara
Bertujuan untuk mengukur kemampuan berbahasa lisan anak dalam mengucapkan bunyi bahasa, menyampaikan ide, pikiran, atau perasaannya ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bagi kelas-kelas awal, keterampilan yang diujikan masih sederhana.
 Tes yang dapat digunakan adalah ulang ucap, uraian lisan, membuat atau menjawab pertanyaan dari suatu wacana, percakapan, diskusi, memberikan atau mendeskripsikan, dan reka cerita gambar.
c.       Tes Membaca
Bertujuan untuk menilai kemampuan siswa untuk mengenal. Merangkaikan huruf, dan membacanya menjadi satuan yang serta memahami maksudnya. Tes awal yang dapat dilakukan adalah :
·         Membaca nyaring.
·         Menjawab dan mengajukan pertanyaan dari wacana tulis.
·         Mengisi wacana rumpang (klos).
Untuk membuat tes dengan wacana rumpang atau tidak lengkap, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :
*          Pilihan wacana baru, yang belum dibaca siswa.
*          Wacana yang dibaca siswa tidak terlalu panjang.
*          Informasi wacana sempurna.
*          Biarkan kalimat pertama, kedua, dan terakhir utuh.
*          Lakukan penghilangan kata pada kalimat kedua, sampai menjelang kalimat akhir.
d.      Tes Menulis
Bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam melambangkan unsur-unsur bahasa dan keterampilannya menuangkan ide, gagasan, dan perasaannya secara tertulis. Tes yang dapat dilakukan yaitu :
*          Menyalin kalimat dan wacana pendek.
*          Menyusun kata-kata atau kalimat acak menjadi kalimat atau wacana yang baik.
*          Membuat cerita gambar.
*          Membuat gambar dan ceritanya.
*          Merangkum karangan.
*          Memparafrase.
*          Menyusun karangan sederhana.
*          Menyunting dan memperbaiki karangan.
*          Menanggapi  secara tertulis suatu wacana.

2.      Alat Penilaian Nontes
Yaitu alat penilaian selain tes. Teknik nontes ini dapat di laksanakan dengan observasi ,wawancara, dan portofolio. Penilaian nontes dapat dilakukan pengamatan/observasi. Pengamatan yaitu pengumpulan informasi dilakukan dengan mengamati dan mencatat perilaku siswa. Pengamat harus terencana dan terarah. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan cara :
      Catatan anekdot berisi paparan perilaku siswa.
      Daftar cek berisi nama-nama aspek yang ingin diselidiki sehingga harus disusun berdasarkan tujuan pengamatan itu sendiri.
      Konferensi atau wawancara yaitu pengumpulan informasi dengan sejumlah pertanyaan.
      Tugas yaitu pengumpulan informasi mengenai perkembangan dari kemajuan, tanggapan, serta sikap siswa melalui kumpulan hasil pekerjaan siswa.
      Portofolio yaitu pengumpulan informasi mengenai perkembangan dan kemajuan, tanggapan, serta sikap siswa melaluo kumpulan hasil pekerjaan siswa.
 
BAB IV
PROSEDUR PENILAIAN PEMBELAJARAN YANG BENAR

Prosedur penilaian, yaitu :
  • Penilaian proses, yaitu penilaian yang dimaksud untuk memperoleh informasi atas hal-hal yang sedang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
  • Penialain hasil, yaitu penilaian yang dimaksudkan untuk menentukan pencapaian atau hasil belajar siswa. Alat penilaian yang digunakan ialah tes dan non tes.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam penyusunan alat penilaian pembelajaran bahasa untuk kelas rendah, yaitu :
*      Kemampuan Siswa
Tidak semua anak yang masuk di SD pernah mengalami masa pendidikan prasekolah atau taman kanak-kanak. Bagi anak seperti ini, pengenalan baca tulis secara formal baru dialami ketika masuk SD. Jenis penilaian dan tingkat kesukarannyapun harus disesuaikan dengan keadaan mereka.
*      Komponen Pembelajaran Siswa
Penilaian diarahkan kepada kemampuan dan kemajuan siswa atas beberapa atau semua aspek pembelajaran bahasa secara bersamaan dengan menggunakan satu alat penilaian tertentu.
*      Hakikat Belajar Bahasa
Belajar bahasa merupakan suatu proses individual yang berlangsung secara terus-menerus dan otentik. Individual maksudnya, penilaian hendaknya lebih menekankan kepada perbandingan kemajuan individu siswa dari waktu ke waktu. Bertahap artinya penilaian hendaknya dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa yang diperoleh secara bertahap. Terus-menerus maksudnya penilaian diarahkan pada proses dan hasil, dan dilakukan sepanjang masa pembelajaran. Otentik artinya penilaian untuk belajar bahasa hendaknya disajikan dalam konteks kebahasaan yang wajar selaras dengan kenyataan berbahasa sehari-hari di dalam masyarakat.
BAB V
ALAT PENILAIAN

Tentunya, evaluasi mempunyai beberapa teknik yang berusaha mencari solusi lebih baik dalam mengejar keerhasilan belajar. Pada dasarnya evaluasi itu dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk tes yaitu teknik tes dan teknik non tes.
Prosedur penilaian, yaitu :
  • Penilaian proses, yaitu penilaian yang dimaksud untuk memperoleh informasi atas hal-hal yang sedang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
  • Penialaian hasil, yaitu penilaian yang dimaksudkan untuk menentukan pencapaian atau hasil belajar siswa. Alat penilaian yang digunakan ialah tes dan non tes.

A.    Macam-Macam Alat Penilaian
1.      Teknik Tes
            Tehnik tes adalah satu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau merangkai tugas yang harus dikerjakan oleh anak didik atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan, yang terdiri dari :
*      Tes Subjektif
Tes ini sering pula diartikan sebagai tes essay yaitu tes hasil belajar yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang bersifat uraian dan atau penjelasan. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, penjelasan, mendiskusikan, membandingkan, memberi alasan, dan bentuk lain sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.

*      Tes Obejektif
Maksudnya adalah adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatsi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes essay. Tes objektif disebut juga dengan istilah short answer test atau new type test. Yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih diantara alternatif jawaban yang dianggap benar dan paling benar.

2.      Teknik Non-Tes
Maksudnya adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dengan cara :
*      Skala Bertingkat
Yang dimaksud dengan skala bertingkat atau rating scala adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan
*      Daftar Cocok
Maksudnya adalah suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan dijawab dengan membubuhkan tad cocok (x) pada kolom yang telah disediakan
*      Wawancara
Maksudnya adalah semua proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, mendengar dengan telinganya sendiri suaranya
*      Daftar Angket
Maksudnya adalah bentuk tes yang berupa daftar pertanyaan yang diajukan pada responden, baik berupa keadaan diri, pengalaman, pengetahuan, sikap dn pendapatnya tentang sesuatu
*      Pengamatan (Observasi)
Maksudnya adalah teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti secara cermat dan sistematis. Dengan menggunakan alat indra dapat dilakukan pengamatan terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa disekolah.
Oleh karena pengamatan ini bersifat langsung mengenai aspek-aspek pribadi siswa, maka pengamtan memiliki sifat kelebihan dari alat non tes lainnya
*      Riwayat Hidup
Ini adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi seseorang sebagai bahan informasi penelitian. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dpat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.
Alat yang berupa non-tes dapat berupa :
~       Skala bertingkat (untuk mengukur sikap, pendapat, keyakinan, dan nilai.
~       Wawancara.
~       Pengamatan.
Alat tes dapat dibedakan menjadi berbagai macam, bergantung dari segi mana kita akan membedakannya. Ada tes buatan guru, ada tes standar. Ada tes pengukur keberhasilan, yang meliputi :
*     Tes kemampuan awal, yang terdiri dari pretes, tes prasyarat, tes penempatan.
*     Tes diagnostik
*     Tes formatif
*     Tes sumatif.
Berdasarkan bentuknya, dibedakan tes esai dan tes objektif, yang masing-masing masih dapat diperinci lagi.
Keberhasilan sebuah proses pembelajaran yang telah dilakukan tentu amat bergantung pada “kontrak” yang disepakati diantara pengajar dan peserta ajar.. Hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang pengajar dalam menilai keberhasilan program pembelajarannya adalah bahwa pengajar tersebut sedapat mungkin mengenal dan memahami peserta ajar baik sebagai individu (I) atau kelompok pembelajar (We).
 Jadi, proses penilaian keberhasilan aktifitas pembelajaran yang selama ini hanya dilihat dari ranah kognitif tentu tidak lagi menjadi patokan. Seorang pengajar harus mampu mengenal karakteristik peserta ajarnya. Salah satu instrumen yang dapat digunakan dalam menilai pencapaian pembelajaran adalah evaluasi hasil pembelajaran (EHP). EHP adalah suatu proses sistematis yang memungkinkan seorang pengajar dapat mengukur sejauh mana mahasiswa mencapai sasaran pembelajarannya.
            Ada dua jenis evaluasi yang dapat dilakukan, yakni: Progressive assessment/Formative assessment dan Terminal assessment/ Summative assessment (Guilbert: 1977). Jenis evaluasi yang pertama biasanya dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemajuan mahasiswa dalam proses pembelajarannya atau kita sering menyebutnya sebagai ujian tengah semester (UTS).
Dalam evaluasi ini, penilaian tidak dilakukan untuk menentukan kelulusan mahasiswa dalam pembelajarannya. Sementara, jenis evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan akhir mahasiswa yang juga pada akhirnya menentukan kelulusan dalam proses pembelajarannya adalah Terminal assessment/Summative assessment.
Bentuk dari evaluasi yang dapat dilakukan tentu akan berbeda antara masing-masing mata pelajaran. Bahkan satu mata pelajaran pun dapat menggunakan lebih dari satu bentuk evaluasi.
Bentuk evaluasi yang sering digunakan dalam menentukan tingkat keberhasilan pembelajaran, antara lain: ujian praktikum, ujian tulis, presentasi kasus, dsb. Pemilihan bentuk evaluasi ini amat bergantung pada karekteristik masing-masing mata kuliah.
Mata pelajaran yang sebagian besar materinya adalah praktikum di laboratorium, tentu akan sangat tepat jika bentuk evaluasi yang dipilih adalah ujian praktikum.
Dengan mengetahui hasil belajar siswa dengan system evaluasi pembelajaran, guru dapat menempatkan diri sesuai pada tempatnya dengan tujuan:

1. Menilai kemampuan ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan
2. Mengukur peningkatan selama pembelajaran
3. Mengetahui kesulitan siswa
4. Mengevaluasi metode pengajaran
5. Memotivasi siswa untuk belajar

B.     Penilaian Terhadap Nilai Tes
Tes adalah alat penilaian. Tes yang baik paling tidak memenuhi syarat validitas dan reliabilitas.
1.      Validitas
Validitas tes menunjuk pada pengertian apakah tes itu dapat mengukur apa yang akan diukur (Ebel, 1979: 298). Misalnya, kita mempunyai sebuah tes kemampuan apresiasi sastra.
Apakah tes itu mampu mengukur kemampuan apresiasi sastra yang sesungguhnya? Artinya, siswa yang mendapat nilai baik memang benar-benar lebih baik kemampuan apresiasi sastranya daripada siswa yang mendapat nilai kurang baik. Validitas tes meliputi :
~       Validitas isi
~       Validitas ukuran
~       Validitas sejalan
~       Validitas konsep
~       Validitas ramalan.

2.      Reliabilitas
Reliabilitas tes menunjuk pada pengertian apakah tes itu dapat mengukur kemampuan/keterampilan secara konsisten pada subjek yang sama atau sebanding. Ada beberapa cara/teknik untuk mengetahui tingkat reliabilitas tes itu:
  • Tes dicobakan lebih dari satu kali terhadap siswa yang sama. Hasil tes dikorelasikan dan jika koefisien korelasi yang diperoleh cukup tinggi, maka tes tersebut dapat dikatakan reliabel.
  • Teknik belah dua, artinya kita memisahkan skor hasil tes ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok nomor soal ganjil dan kelompok nomor soal genap. Skor dari soal nomor ganjil dan genap itu lalu dikorelasikan. Jikakoefisien korelasinya cukup tinggi, maka tes itudapat dikatakan reliabel.
  • Rumus Kuder-Richardson (KR) 20 dan 21.
  • Teknik butir parallel. Pengujian tingkat reliabilitas tes butir parallel mendasarkan diri pada keajegan jawaban siswa terhadap butir-butir soal yang dimaksudkan untuk mengukur tujuan yang sama.
  • Teknik bentuk parallel. Jika pada teknik butir parallel yang berparalel hanya butir-butir soal tertentu yang mengukur satu tujuan, teknik bentuk parallel yang berparalel perangkat tes secara keseluruhan.

C. Penilaian Kebahasaan
Tes kebahasaan merupakan alat yang dipakai untuk mengukur kemampuan ataupun penguasaan bahasa pembelajar. Tes ini meliputi (a) tes kompetensi kebahasaan, yaitu tentang pengetahuan system bahasa dan (b) tes kemampuan berbahasa baik yang bersifat reseptif maupun produktif. Adapun bentuk tes yang digunakan dapat berupa tes diskrit, tes integrative, maupun tes pragmatik/komunikatif


BAB VI
PELAKSANAAN PENILAIAN HOLISTIK

          Pelaksanaan penialaian holistik dilakukan atas dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahan pelaksanaan.
A.    Persiapan Penerapan Penilaian Holistik
      Memahami dengan baik apa, mengapa, bagaimana, penilaian holistik.
      Memahami fokus aspek pembelajaran yang akan dinilai secara holistik.
Sebagai tahap penula dalam melaksanakan penialian secara holistik ini, maka penialian hendaknya dilakukan secara bertahap, hendaknya dapat menahan diri dan tidak terlalu ambisius karena pengalaman dan pemahaman tentang penilaian ini masih sangat baru. Untuk itu guru harus menentukan dahulu aspek yang diperioritaskan.
      Memantapkan tujuan penilaian holistik yang akan dilakukan.
      Menyiapkan dan mengembangkan rencana pembelajaran dan penilaian.
      Tentukan apa yang dinilai dan kapan melakukannya.
      Merancang alat penilaian tes dan non tes.
      Menyiapkan alat pendukung, yaitu :
-          Map kumpulan pekerjaan baca tulis siswa.
-          Map yang berisi tulisan dari map di atas.
-          Tempat penyimpanan map siswa.
-          Dinding tempat penempelan tulisan siswa yang secara periodik diganti.
-          Meja dan kursi untuk wawancara guru dan siswa.
-          Dokumen guru yang berisi catatan anekdot dan berkas atau alat penilaian guru.
2.      Pelaksanaan Penilaian Holistik
Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan mengenai pelaksanaan penilaian holistik pembelajaran membaca dan menulis oleh guru kelas awal, berikut ini akan disajikan secara ringkas tahapan peristiwanya. Contoh ini hanyalah sebagai salah satu model yang bila diterapkan, harus sesuai selaras dengan situasi kelas dan kemampuan guru
      Pada awal pembelajaran, guru mengiformasikan kepada siswa tujuan dan hasil pembelajaran yang diharapkan.
      Guru melakukan tes awal dan mengidentifikasi rata-rata kemampuan anak.
      Di sela-sela pembelajaran, guru melakukan pengamatan.
      Guru mengumumkan tiga bacaan wajib dan dua bacaan bebas selama satu semester dan tugas yang harus dilakukan.
      Guru mengadakan tes membaca dan menulis.
      Sesekali murid dtugaskan melakukan penelitian keci-kecilan.
      Secara berkala, karangan atau tulisan siswa yang menurut siswa sendiri baik, dapat dipajang di dinding kelas.
      Membuat ringkasan data hasil observasi dan penilaian diri dalam mengajar.
      Siswa membuat portofolio menjelang akhir semester, yang berisi pengalaman terbaik mereka, kumpulan terbaik mereka, beserta alasannya.
      Pada akhir semester, guru meringkas penilaiannya.
 BAB VII
KESIMPULAN

Evaluasi adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya.
Pengajar, desain pembelajaran, dan peserta didik adalah 3 (tiga) hal yang selalu disebut saat kita ingin berbicara tentang proses pembelajaran, karena hal tersebut yang menjadi motor dalam pergerakan sebuah roda pembelajaran.
Menurut Gagne, Briggs, & Wager (dalam Prawiradilaga, 2007) desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, dimana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Tapi menurut Kemp, Morrison, & Ross (dalam Prawiradilaga, 2007) esensi disain pembelajaran mengacu pada keempat komponen inti, yaitu siswa, tujuan pembelajaran, metode, dan penilaian.
Penilaian sudah melakukan terobosan atau inovasi. Terbukti, saat ini paper and pen bukanlah satu-satunya cara untuk menilai keberhasilan belajar peserta didik. Asesmen portofolio, autentik, dan lain-lain adalah sedikit dari banyak inovasi cara menilai keberhasilan peserta didik yang lebih menitikberatkan pada proses.
            Untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran tidak culup hanya dengan menggunakan penilaian terhadap hasil belajar siswa sebagai produk dari sebuah proses pembelajaran. Kualitas suatu produk pembelajaran tidak terlepas dari proses pembelajaran itu sendiri. Evaluasi terhadap program pembelajaran yang disusun dan dilaksanakan guru sebaiknya menjangkau penilaian terhadap  desain pembelajaran yang meliputi kompetensi yang dikembangkan, strategi pembelajaran yang dipilih, dan isi program. Implementasi program pembelajaran atau kualitas pembelajaran. Dan juga hasil program pembelajaran.
Dalam melakukan penilaian terhadap hasil program pembelajaran tidak hanya sebatas pada hasil jangka pendek atau output tetapi sebaliknya juga menjangkau outcome dari program pembelajaran.
Evaluasi menjadi hal yang penting dalam proses belajar mengajar, karena tanpa evaluasi akan susah sekali mengukur tingkat keberhasilannya. Evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok serta Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan,
            Saran kami adalah :
*      Gunakan evaluasi sefektif mungkin supaya efektif dan efesian.
*      Carilah evaluasi yang menarik bagi anak didik supaya anak didik merasa nyaman dan tidak terbebani.
*      Jadikan evaluasi sebagai alat kontrol untuk kemajuan pendidikan.

Konsep pendidikan holistik ini bagus sekali, dan tujuan nya mengasah otak kanan siswa. Tapi apakah dapat dibuat di Indonesia ? Karena terlalu teoritis dan tidak praktis. Sementara guru sebagai tenaga pendidikan dan subjek di dalam kelas apakah dapat mengaplikasikannya ? Karena guru bukan produk darr pendidikan holistik.
Dinas pendidikan seharusnya konsep ini dimasukan ke dalam sistem pendidikan di Indonesia agar Indonesia mempunyai manusia-manusia yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan

BAB VIII
SOAL-SOAL DAN KUNCI JAWABAN

1.      Bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan ?
      Jawab          : Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

2.      Apakah yang dimaksud dengan penilaian sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik ?
      Jawab          : Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu. Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.

3.      Apakah fungsi evaluasi bagi guru ?
Jawab          : Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan. Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum. Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut. Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.

4.      Kapan penilaian dilakukan ?
Jawab          : Penilaian dilakukan tidak hanya pada akhir suatu program atau menunggu suatu program semester selesai, tetapi juga di tengah-tengah atau pada saat program belajar mengajar sedang berlangsung. Penilaian ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung juga diharapkan karena pada saat itu guru masih berkesempatan menambah sesuatu kekurangan siswa tersebut jika ternyata ada beberapa bagian yang belum dimengerti siswa. Bagi siswa, penilaian harian atau mingguan merupakan suatu pemaksaan bagi mereka untuk belajar. Keuntungan penilaian di tengah-tengah penyampaian materi dapat bermanfaat bagi guru, siswa, ataupun orangtua. Bagi siswa penilaian ini berguna karena dengan segera ia mengetahui kekurangan dan kelemahannya.

5.      Mengapa kita mengadakan penilaian ?
Jawab          : Penilaian dilakukan untuk memberikan laporan kemajuan yang telah dicapai siswa baik untuk siswa sendiri, guru, juga orangtua siswa. Dengan penilaian ini, kita dapat mendorong siswa belajar lebih baik dan meningkatkan kemampuannya sehingga dapat berlanjur ke jenjang berikutnya. Selain itu, juga untuk menghasilkan siswa yang mampu berkomunikasi dengan tepat pada semua bidang atau tingkat kehidupan dan untuk meyakinkan masyarakat akan program pengajaran yang baik yang diperlukan sesuai tuntutan masayarakat.

6.      Bagaimana bentuk penilaian ?
Jawab       : Bentuk penilaian yang dapat diberikan kepada siswa tentu saja tidak selalu harus berupa tes, penilaian tidak semata-mata dengan tes ujian semester atau kenaikan kelas. Yang terpenting justru penilaian sehari-hari yang merupakan bagian dari kegiatan belajara mengajar. Untuk mengadakan penilaian seperti itu guru dapat melakukannya dengan cara yang sederhana dan mudah. Misalnya, dengan pengamatan yang dikumpulkan setiap harinya. Selain penilaian sperti itu guru juga mengadakan penilaian untuk penilaian sumatif. Dalam penilaian sumatif yang selalu dilakukan penilaian diberikan dalam bentuk tes. Biasanya kita mengenal ada dua macam tes, yaitu tes objektif dan juga tes subjektif. Tes objektif berbentuk soal-soal pilihan berganda, menjodohkan, dan mengisi. Sedangkan penilaian bentuk tes subjektif ialah tes essay, mengarang, dan wawancara.

7.     Apakah perbedaan penilaian tes dan nontes ?
Jawab       : Tehnik tes adalah satu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau merangkai tugas yang harus dikerjakan oleh anak didik atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan. Contohnya melalui ujian tertulis baik yang bersifat objektif maupun subjektif. Sedangkan penilaian nontes adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik. Contohnya skala bertingkat, daftar cocok, wawancara, daftar angket, pengamatan (observasi), dan riwayat hidup.

8.     Alat penilaian manakah yang paling baik digunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia ?
Jawab       : Pada dasarnya semua alat penilaian itu baik. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita untuk menempatkan penilaian tersebut sesuai dengan tempatnya. Dan penilaian ini tidak dilakukan hanya sekali, namun secara berualng-ulang, kemudiaan baru dapat di ambil kesimpulan dengan mengrata-ratakan hasil penilaian tersebut.

9.     Bagaimana cara menerapkan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik pada anak yang jumlahnya banyak ?
Jawab       : Cara menerapkan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik pada anak yang jumlahnya banyak adalah dengan cara membuat catatan observasi, yaitu catatan guru tentang sikap-sikap siswa. Baik di dalam kelas maupun di luar kelas

10.             Apakah maksudnya penilaian bahasa Indonesia bersifat utuh, menyeluruh, dan terus menerus?
Jawab       : Penilaian bahasa Indonesia bersifat utuh, menyeluruh, dan terus menerus maksudnya adalah penilaian dilakukan tidak hanya sekali namun berulang-ulang dan tidak dapat diganggu gugat, bersifat objektif. Serta sasarannya tidak hanya hasil atau siswa tetapi juga proses, guru, dan pembelajaran itu sendiri
 
DAFTAR PUSTAKA

  • Kosadi hidayat dkk. 1996. “Evalusi pendidikan dan penerapannya dalam pengajaranbahasa Indonesia”. Alfabeta : Jakarta.
  • Muchlisoh, dkk. 1992. “Pendidikan Bahasa Indonesia 3, Modul 1-9”. Jakarta : Departeman P & K.
  • Sudijono, Anas. 1995. “Pengantar Evaluasi Pendidikan”. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.
  • Tim Bahasa Indonesia. 2009. “Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah”. Medan : UNIMED.
  • www. Altavista. Com
  • www. Google. Com
  • www. Yahoo. Com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar